Ia bahkan pernah pulang tanpa membawa satu penumpang pun.
“Udah, diem di rumah, nunduk,” ucapnya lirih.
Rasa malu kerap muncul ketika setoran tidak tercapai. Ia harus mendengar keluhan dari sang pemilik angkot.
“Kuping sampai panas diomongin. Tapi mau gimana lagi, memang enggak ada,” ujarnya.
Meski demikian, Sutanda tak menyerah. Ia terus mengandalkan strategi sederhana: sabar dan bertahan. Pada momen tertentu seperti Lebaran dan libur sekolah, angkotnya masih mendapat sewaan.
Baca Juga:Tak Boleh Ngetem, Sopir Angkot Bogor Akui Pendapatan AnjlokUsai Kabur, Sopir Angkot Penabrak Pejalan Kaki di Puncak Akhirnya Menyerahkan Diri
“Kalau lagi rame, bisa dapat Rp200 ribu sehari,” katanya.
Namun di hari biasa, ia mengakui ojek online menjadi pesaing yang sulit dikalahkan.
“Sebelum ada online, angkot itu jagonya. Sekarang penumpang sudah pindah. Angkot kalah,” ujarnya.
Meski sadar besi tua hijau yang dikendarainya bukan lagi primadona, Sutanda tetap percaya bahwa rezeki masih bisa dicari dari setiap kilometer yang ia lalui.(regi)
