bogorekspres.com, KAB BOGOR– Ungkapan kasih sayang orang tua memang tak lekang oleh zaman. Di seluruh dunia, mereka rela melakukan apa saja demi kebahagiaan dan kesehatan buah hati.
Kisah perjuangan itu nyata di Desa Ciadeg, Cigombong, Kabupaten Bogor, di mana pasangan Siti Hanifah (25) dan Hermawan (35) berjuang tanpa lelah untuk putri semata wayangnya, Hana Hanifah (8) yang menderita penyakit hati langka, Atresia Bilier.
Atresia Bilier adalah kondisi di mana saluran empedu tidak berkembang normal sehingga empedu terperangkap dan merusak hati.
Baca Juga:Kolaborasi PMC dan Pemerintah Kecamatan Bojonggede Hijaukan Jalur BomangRawat Hulu Ciliwung, Pemkab Bogor Bentuk Tim Khusus Pantau Pohon Selama Setahun
Penyakit ini memerlukan penanganan intensif dari dokter spesialis. Siti Hanifah menceritakan bahwa penyakit putrinya terdiagnosa saat berusia 19 hari.
“Penyakitnya, kalau kata di kampung ya penyakit kuning, fungsi hatinya rusak. Kalau kata di rumah sakit, Atresia Bilier,” ujar Siti Hanifah saat dihubungi.
Berita tentang penyakit balita ini seperti petir di siang bolong bagi pasangan. Namun, pasutri ini menolak menyerah pada takdir.
Mereka sempat membawa putrinya berobat, tetapi harus menghentikan sementara karena kendala biaya.
Hana Hanifah yang seharusnya mulai aktif mengoceh dan tengkurap, justru harus berjuang melawan demam saat berusia empat bulan.
Keduanya kemudian membawa Hana ke bidan dan mendapat saran untuk memeriksakan perut kembungnya ke rumah sakit.
Dokter spesialis gastroenterologi-hepatologi kemudian memberikan obat batu empedu untuk mengurangi rasa sakit. Namun, perjalanan pengobatan Hana tidak berhenti di situ.
Baca Juga:Bupati Bogor Ingatkan Partai Politik: Pasang Atribut Boleh, Asal Tak Rusak EstetikaBupati Rudy Susmanto Andalkan Gotong Royong Wujudkan Hutan Kota di Setiap KecamatanÂ
“Setelah itu, kami mendapat rujukan ke rumah sakit lain untuk USG Abdomen. Biayanya sekitar Rp 8 juta. Kami sempat kaget, tapi tetap berpikir bisa pakai BPJS. Akhirnya kami berhenti lagi sementara,” ungkap Siti.
Pada November 2025, kondisi H menurun drastis hingga mengalami sesak napas parah. Siti mengaku sempat ditolak oleh Instalasi Gawat Darurat sebelum akhirnya memutuskan membawa putrinya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk penanganan lebih lanjut.
“Karena anak harus dibawa ke RSCM, kami sempat ditolak di RSUD Ciawi karena di sana tidak ada dokter gastro. Suami saya minta tolong ke dokter yang bertugas untuk hilangkan sesaknya dulu, baru nanti kami ke RSCM. Tapi setelah dua hari, perutnya malah makin besar,” jelas Siti.
