Untuk ornamen sunda seperti sulur dan ukiran sebagai lambang kesinambungan generasi, hidup yang tumbuh, bukan beku. Nilai adat yang menyesuaikan zaman tanpa menghilangkan jati diri.
Kemudian, terdapat lambang Kabupaten Bogor yang berada pada tengah gapura yang bermakna, pemerintah sebagai pengayom dan bukan penguasa sewenang-wenang.
“Kekuasaan harus berada di tengah, adil, tidak condong ke satu kepentingan,” ujarnya.
Baca Juga:Kecamatan Megamendung Rubah Simpang Pasar Sukamanah Jadi Kawasan Terpadu ModernPimpin Rapat RKPD 2027, Bupati Bogor Minta Pembangunan Lebih Terarah dan Terukur
Yudi mengungkapkan, jika seluruh unsur disatukan bermakna Kuta Udaya Wangsa yang diartikan sebagai gerbang pusat kebangkitan peradaban Bogor.
“Tempat di mana, kebijakan lahir dari nilai, kekuasaan tunduk pada etika, dan pembangunan berakar pada budaya. Dalam bahasa Sunda filosofi; Gerbang ieu lain ukur lawang dayeuh, tapi lawang kana darajat rahayat,” jelasnya.
“Kesimpulan Filosofis. Gerbang ini melambangkan, Identitas Sunda Bogor, keberlanjutan Pajajaran secara nilai, bukan bentuk politik, cita-cita pemerintahan berbudaya (culture-based governance). Selaras dengan nilai: Cageur – Bageur – Bener – Pinter – Singer,” sambung Yudi.
