Dari Leuit Tradisional hingga Lumbung Modern, Bupati Bogor Rudy Susmanto Perkuat Ketahanan Pangan 

Dari Leuit Tradisional hingga Lumbung Modern, Bupati Bogor Rudy Susmanto Perkuat Ketahanan Pangan
Leuit yang ada di Kampung Urug, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Foto: Regi /bogorekspres.com
0 Komentar

bogorekpres.com, KAB BOGOR– Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur jalan yang paling menyita perhatian publik.

Pemerintah Kabupaten Bogor justru menapaki langkah sunyi namun strategis, memperkuat ketahanan pangan dari hulu hingga hilir.

Dalam satu tahun kepemimpinan Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama Wakil Bupati Ade Ruhandi (Jaro Ade), pembangunan tak hanya berbicara soal beton dan aspal, tetapi juga soal gabah, lumbung, dan kemandirian pangan.

Baca Juga:Dukung Program Indonesia ASRI, Polres Bogor Bersihkan 36 Masjid Jelang Ramadan Diduga Sebabkan Banjir, Pemkab Bogor Setop Sementara Proyek Spring Valley 

Rudy menegaskan, ketahanan pangan menjadi prioritas yang berjalan seiring dengan pembangunan lainnya.

Ia mempersiapkan wilayah Cariu dan Jonggol sebagai lumbung utama pangan Kabupaten Bogor, sekaligus memperkuat sarana produksi petani agar proses pascapanen tidak lagi bergantung pada daerah lain.

“Sehingga para petani yang ada di Cariu, Jonggol, tadi perlu keluar ke Karawang untuk mengupas, memproses gabahnya menjadi padi,” ujarnya, Kamis (19/2).

Ia menjelaskan, selama ini gabah hasil panen petani Bogor harus dikirim ke Karawang untuk diproses, lalu kembali lagi ke Bogor untuk dipasarkan. Proses itu membuat harga beras naik rata-rata Rp500 per kilogram.

“Nah panennya di Bogor, prosesnya di Bogor, langsung didistribusikan kepada masyarakat dan para pedagang,” sambungnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemkab Bogor menyiapkan berbagai peralatan, mulai dari alat pengupas gabah hingga alat pengering atau bed dryer.

Pemerintah daerah juga menghibahkan Rice Milling Unit (RMU) atau penggilingan padi kepada kelompok tani selama tiga tahun terakhir. Dengan alat itu, petani mampu menggiling hingga dua ton padi per hari.

Baca Juga:Ribuan Warga Bogor Ikuti Kolaborun: Lari Inklusif untuk Semua Lapisan MasyarakatKabupaten Bogor Prioritaskan Penanganan Sampah dengan Gerakan ASRI

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menilai transformasi teknologi menjadi kebutuhan mendesak. Curah hujan tinggi membuat kadar air pada gabah cukup besar sehingga memengaruhi kualitas beras.

“Sehingga tahun ini dalam infrastruktur ketahanan pangan kita memberikan kepada petani bed dryer agar padi itu cepat mengering sehingga beras itu naik derajatnya,” jelasnya.

Tak hanya modernisasi alat, Pemkab Bogor juga mendorong setiap desa memiliki cadangan pangan antara 500 kilogram hingga satu ton. Cadangan itu disimpan di lumbung atau leuit desa sebagai antisipasi saat paceklik.

0 Komentar