bogorekspres.com, KAB BOGOR- Seorang pedagang es kue asal Kabupaten Bogor, Suderajat (49), mengaku menjadi korban intimidasi dan kekerasan oleh oknum anggota kepolisian dan TNI di Kemayoran, Jakarta Pusat.
Peristiwa yang bermula dari transaksi jual beli itu berakhir dengan penahanan berjam-jam dan dugaan pengeroyokan di kantor polisi.
Suderajat tak pernah menyangka perjalanannya berjualan dari Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, ke Kemayoran akan berubah menjadi mimpi buruk.
Baca Juga:14 Kepala Desa di Kabupaten Bogor Bermasalah, Satu Kasus Berujung Pidana Bupati Rudy Susmanto Bangga, Atlet NPCI Kabupaten Bogor Ukir Prestasi Emas
Pada Sabtu, 24 Januari 2025, ia bertemu seorang pembeli yang belakangan ia ketahui merupakan anggota kepolisian.
Awalnya, Suderajat merasa senang karena dagangannya dibeli. Namun situasi berubah ketika pembeli tersebut mencicipi es kue yang dijualnya.
“Jadi dia beli es kue. Saya enggak tahu dia polisi. Pas dicobain katanya esnya enggak enak, katanya kayak busa bedak. Esnya dibejek-bejek sama dia,” ujar Suderajat saat ditemui, Selasa (27/1).
Meski mendapat perlakuan kasar, Suderajat mengaku tetap berusaha menjelaskan bahwa es kue yang dijualnya merupakan produk asli dan sudah lama ia pasarkan.
“Pak, ini bukan es kapas, ini es kue, es asli. Dibejek-bejek, terus sama anaknya dilempar ke muka saya,” katanya.
Alih-alih selesai, persoalan justru membesar. Suderajat menuturkan dirinya kemudian dibawa ke kantor polisi karena menolak mengakui tudingan bahwa es kue yang dijualnya palsu.
“Kejadiannya jam 10 pagi. Saya ditahan sampai jam 3 pagi. Saya dianter sama polisi,” ujarnya.
Baca Juga:DLH Siap Segel Perusahaan Jika Terbukti Buang Limbah di Situ CitongtutPansel Buka Nama-nama 15 Calon Direksi Perumda Tirta Pakuan
Di Polsek Kemayoran, Suderajat mengaku mengalami intimidasi hingga kekerasan fisik. Ia menyebut dipukul dan dipaksa mengaku bersalah oleh aparat.
“Sakit, digebugin. Perih, semuanya ditonjok. Dipaksa ngaku. ‘Ngaku nggak lu?’ Kalau enggak, ditonjok, dijedot-jedot aja. Dua-duanya, TNI dan polisi,” tuturnya.
Dalam kondisi tertekan, ia mengaku tak mampu melawan. Suderajat hanya bisa pasrah saat pengeroyokan terjadi.
“Saya diem aja. Abis lah. Mereka main keroyokan. Rakyat kayak kita di bawah, mereka di atas,” ucapnya.
