Pemkab Bogor Bangun Gerbang Ikonik Kerajaan Pajajaran di Alun-alun Tegar Beriman

Pemkab Bogor Bangun Gerbang Ikonik Kerajaan Pajajaran di Alun-alun Tegar Beriman
Ilustrasi alun-alun Tegar Beriman di lingkungan Pemkab Bogor. Foto: Pemkab Bogor
0 Komentar

bogorekspres.com, KAB BOGOR– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor akan memiliki gerbang Kerajaan Pajajaran di Alun-alun Tegar Beriman, pada 2026.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan Yudi Santosa menjelaskan, alun-alun Tegar Beriman akan memiliki sebuah ikon gerbang yang diyakini bagian dari peninggalan Kerajaan Pajajaran.

“Intinya begini, alun-alun itu diharapkan bisa selesai di akhir Mei yang dibuat itu memang yang menjadi ikonnya adalah gapura,” jelas Yudi, pada Selasa (10/2/2026).

Baca Juga:Kecamatan Megamendung Rubah Simpang Pasar Sukamanah Jadi Kawasan Terpadu ModernPimpin Rapat RKPD 2027, Bupati Bogor Minta Pembangunan Lebih Terarah dan Terukur

“Gapura itu yang diyakini bagian dari peninggalan kerjaan pajajaran yang dinamakan Tritangtu Di Buana,” lanjutnya.

Nantinya, pada sekitaran alun-alun Tegar Beriman, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memajang sebuah replika kereta kencana.

“Kemudian nanti di dalamnya ada selain alun-alun, ada lagi kereta kencana, kereta kencananya binokasih. Atasnya itu mahkota binokasih,” jelas dia.

Ia menutur, gerbang maupun kereta kencana hingga mahkota binokasih memiliki bahan khusus tetapi Yudi tidak menjelaskan lebih lanjut.

“Dipastikan ada material khusus. Nanti kita lihat ga bisa sekarang,” ujarnya.

Sebagai informasi, gerbang Pemkab Bogor bukan sekadar arsitektur melainkan simbol ideologis dan kultural.

Yudi menjelaskan, makna gerbang dalam tradisi sunda dalam kosmologi sunda kuno bermakna pambuka alam yang merupakan peralihan antara luar dan dalam, profan dan sakral, rakyat dan pusat kawijakan, pangwates diri.

Baca Juga:Gunung Putri Diproyeksikan Jadi Desa Percontohan Kabupaten BogorEva Rudy Susmanto Ingatkan PKK Bogor Bijak Bermedia Digital, Dorong Sinergi Lintas Wilayah

“Gerbang adalah batas etika, siapapun yang masuk harus membawa niat bersih, tata krama, dan tanggung jawab.

Puseur dayeuh, gerbang menandai pusat pemerintahan sebagai jantung peradaban, bukan sekadar kantor administratif,” jelasnya.

Pada gapura tersebut, memiliki arsitektur bertingkat atau atap berundak. Bentuk tersebut menyerupai bangunan mandala Sunda-Nusantara yang bermakna Tritangtu Di Buana.

“Buana Nyungcung (nilai luhur, spiritual, visi), Buana Panca Tengah (manusia, pemerintahan, kebijakan), Buana Larang (alam, rakyat, kehidupan nyata),” jelasnya.

“Artinya, Pemerintahan wajib menyambungkan nilai luhur, kepentingan rakyat, dan keseimbangan alam,” sambung dia.

Selain itu, terdapat rongga tengah besar di tengah gerbang yang melambangkan keterbukaan, transparansi, akses rakyat terhadap negara.

“Secara filosofis, pemerintahan yang baik tidak tertutup, tidak gelap, dan tidak memutus jalan rakyat,” ujarnya.

Lebih lanjut, terdapat simbol dari material bata merah yang menandakan membumi, kejujuran, kerja nyata, dan kekuatan lahir dari tanag sendiri.

0 Komentar