Sujud di Aspal Empang, Menjemput Berkah di Malam Ganjil

Sujud di Aspal Empang, Menjemput Berkah di Malam Ganjil
Ratusan jemaah memadati ruas Jalan Pahlawan di kawasan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, untuk melaksanakan salat tarawih pada malam ke-21 Ramadan, Selasa (10/3/2026) malam. Foto: Sekar Andini / bogorekspres.com
0 Komentar

Oleh Sekar Andini

bogorekspres.com, KOTA BOGOR- Malam baru saja melabuhkan tirainya di kawasan Empang, Bogor Selatan, Selasa (10/3/2026), namun hiruk-pikuk di Jalan Pahlawan justru kian menderu.

Bukan oleh deru mesin kendaraan, melainkan oleh langkah kaki ratusan jemaah yang datang dengan satu tujuan: mengejar malam ganjil ke-21 Ramadan.

Aspal jalan yang biasanya panas oleh terik matahari, seketika berubah menjadi hamparan sajadah berwarna-warni.

Baca Juga:Pemkab Bogor Ajak Warga Tanam Pangan di Pekarangan, Antisipasi Gangguan Pasokan Global2.100 Sopir Angkot di Puncak Diliburkan Sebelum Lebaran 

Arus lalu lintas pun seolah “takzim” memberi jalan, terhenti total saat saf-saf jemaah mulai merapat hingga menutupi ruas jalan utama di sekitar area masjid dan makam keramat Empang.

Di bawah temaram lampu jalan, suasana berubah menjadi khusyuk, meski raga harus bersujud di atas kerasnya jalanan.

Bagi mereka yang datang, jarak bukanlah penghalang. Abdullah (50), misalnya, rela menembus kemacetan dari Jakarta demi menjaga tradisi spiritualnya. Baginya, Empang adalah persinggahan wajib dalam peta perburuan Lailatul Qadar.

“Ini memang sudah tradisi. Kalau Ramadan ada istilah malam-malam ganjil. Malam 21 biasanya di Bogor, nanti malam 23, 25, atau 27 berpindah lagi ke Kramat atau Kwitang di Jakarta,” ujar Abdullah dengan sisa napas kelegaan setelah menemukan tempat untuk rombongannya.

Empang memang bukan sekadar titik di peta Bogor. Kawasan ini memiliki magnet spiritual yang kuat, dianggap sebagai tempat yang membawa ketenangan dan keberkahan bagi mereka yang percaya.

“Ini tempat keramat. Kalau tidak ada daya tariknya, tidak mungkin orang dari Jakarta jauh-jauh datang ke sini hanya untuk tarawih di jalanan,” tambahnya.

Fenomena ini bukan hanya milik generasi tua. Ahmad Rifki Alatas, pemuda 18 tahun asal Jakarta Pusat, tampak membaur di antara kerumunan.

Baca Juga:Mudik Tenang, Motor Aman ! Polres Bogor Buka Layanan Titip Kendaraan GratisPemkab Bogor Kerahkan Alat Berat dan Puluhan Truk Bersihkan Sampah Liar di Desa Kopo 

Datang sejak sore hari bersama rekan-rekan pesantrennya, ia rela berbuka puasa di pinggir jalan demi bisa berada sedekat mungkin dengan guru dan majelis pengajiannya di kawasan tersebut.

“Kita menghormati guru-guru kita. Selain itu, tentu berharap keberkahan malam Lailatul Qadar,” ucap Rifki dengan wajah yang masih segar meski menempuh perjalanan jauh sejak pukul setengah lima sore.

0 Komentar