bogorekspres.com, KAB BOGOR– Jembatan Gobang menghubungkan Kampung Tarisi dan Kampung Gobang di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, ambruk setelah diterjang banjir pada Rabu (15/4/2026) sore.
Padahal, Jembatan itu dibangun dengan anggaran yang fantasis Rp 1 Miliar yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor.
Jembatan itu memilik panjang sekitar 32 meter dan lebar 3 meter di tersebut merupakan proyek pembangunan desa yang dibiayai bantuan keuangan (bankeu) tahun anggaran 2025.
Baca Juga:Luapan Sungai Citempuhan Robohkan Jembatan Desa Gobang, Motor dan Uang 50 Juta milik Warga Hilang Kamar Dipenuhi Lalat, Seorang Pria Ditemukan Tewas di Kontrakan Klapanunggal
Diketahui jembatan baru diresmikan pada tanggal 5 Maret 2026 lalu oleh Pemeritah Desa Gobang.
Proyek itu dibangun agar dapat dilintasi kendaraan roda empat dan dikerjakan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) desa bersama warga melalui mekanisme musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang).
Camat Rumpin Icang Aliyudin menjelaskan, jembatan tersebut sempat difungsikan sejak Ramadan lalu sebelum akhirnya roboh akibat derasnya arus banjir yang membawa material bambu dan merusak struktur penyangga.
“TPK desa dengan warga, dengan kebutuhan wilayah penyambung kampung Tarisi dengan Gobang,” ujarnya kepada bogorekspres.com, Jumat (17/4).
Ia menambahkan, penyebab utama kerusakan bukan pada spesifikasi bangunan, melainkan faktor bencana alam yang terjadi secara tiba-tiba.
“Jadi jembatan itu untuk bisa masuk mobil. Tapi pas tanggal Rabu 15 April itu ada banjir besar, rumah-rumah juga kebawa yang pinggir-pinggir dan tiang tanggulnya itu terdorong oleh bongkahan bambu jadi tiang putus tuh (tiang penyangga tengah),” jelasnya.
Icang menegaskan, ambruknya jembatan murni akibat kondisi alam ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Baca Juga:IPB University Selidiki Dugaan Pelecehan Seksual yang Viral di MedsosPolres Bogor Bentuk Tim Khusus, Kasus Dugaa Jual Beli Jabatan Naik ke Tahap Penyelidikan
“Ya sudah, emang karena bencana aja itu mah ambruknya,” katanya.
Meski demikian, peristiwa ini tetap menjadi sorotan mengingat usia jembatan yang masih sangat baru.
Pemerintah kecamatan memastikan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan perbaikan melalui skema Belanja Tidak Terduga (BTT).
“Sudah berkoordinasi, kita melaporkan kemarin juga ada kunjungan Wakil Bupati, mudah-mudahan ada BTT untuk perbaikan semua demi kepentingan warga,” ujarnya.
Hingga kini, warga sekitar masih terdampak akibat putusnya akses penghubung antar-kampung tersebut.
Pemerintah daerah berjanji akan mempercepat langkah penanganan agar mobilitas masyarakat kembali normal.
