Di Balik Seragam Park Ranger, Andin Bangun Ketangguhan dan Kemandirian

Di Balik Seragam Park Ranger, Andin Bangun Ketangguhan dan Kemandirian
Andin seorang park ranger di Kota Bogor. Foto : Sekar Andini / bogorekspres.com
0 Komentar

bogorekspres.com, KOTA BOGOR– Di tengah terik matahari dan ramainya pengunjung taman kota, Andin Rahmatia (26) menjalankan tugasnya dengan sigap.

Sebagai Park Ranger perempuan di Kota Bogor, ia tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menantang batasan peran gender yang selama ini melekat pada pekerjaan lapangan.

Sudah tiga bulan terakhir, Andin aktif bertugas di sejumlah taman kota seperti Alun-alun, Taman Heulang, hingga Taman Sempur.

Baca Juga:Tata Babakan Madang, Pemkab Bogor Ganti Atap Asbes Jadi Genteng Lewat Program CSRLaka Tunggal, Pemotor Tewas Usai Tabrak Trotoar di Puncak Bogor

Di setiap lokasi, ia memastikan ketertiban pengunjung tetap terjaga, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan ruang publik.

“Saya memilih pekerjaan ini karena ingin mencari tantangan baru. Selain itu, saya juga ingin belajar mandiri dan melatih mental untuk bekerja langsung di lapangan,” ujar Andin saat ditemui, Rabu (22/4).

Dalam kesehariannya, Andin tidak hanya berjaga. Ia juga rutin mengingatkan pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan, melarang aktivitas merokok di area taman, hingga menertibkan pedagang kaki lima yang melanggar aturan.

“Selain menjaga keamanan, kami juga menghimbau pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan dan tidak merokok di dalam area taman,” katanya.

Meski memiliki tanggung jawab yang sama dengan rekan laki-lakinya, sistem kerja Park Ranger perempuan berbeda.

Andin bekerja dari pagi hingga sore, sementara petugas laki-laki menjalani sistem shift hingga 24 jam. Namun, perbedaan itu tidak mengurangi beban kerja di lapangan.

Jumlah Park Ranger perempuan di Kota Bogor pun masih sangat terbatas. Dari lebih dari 100 petugas, hanya sekitar lima orang perempuan yang menjalankan profesi ini.

Baca Juga:BPBD Catat Pergerakan Tanah di Babakan Madang : 7 Rumah Rusak dan 28 Warga MengungsiKesbangpol Perkuat Pembinaan 400 Ormas Kabupaten Bogir, Pilih Pendekatan Guyub untuk Cegah Konflik 

Kondisi tersebut membuat Andin menjadi bagian dari kelompok kecil yang perlahan mengubah stigma.

“Untuk kerjaannya tetap sama, dan saya juga senang menjalaninya. Kalau ditanya capek, pasti capek, apalagi saat long weekend ketika pengunjung ramai,” ungkapnya.

Tantangan tidak hanya datang dari beban kerja fisik, tetapi juga dari interaksi dengan masyarakat. Andin kerap menghadapi respons kurang menyenangkan, terutama saat menertibkan pedagang yang melanggar aturan.

“Kadang ada yang menyindir atau tetap memaksa jualan, padahal itu sudah aturan yang harus kami tegakkan,” tuturnya.

0 Komentar